Rabu, 26 September 2012

Studi Ekologi Organisme Hutan Mangrove

I. PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang
Wilayah pesisir dan lautan Indonesia memiliki keanekaragaman yang tertinggi di dunia. tingginya keanekaragaman hayati bukan hanya disebabkan oleh letak geografis yang sangat strategis, melainkan juga dipengaruhi oleh faktor variasi iklim musiman, arus atau massa air laut yang di pengaruhi oleh massa air dari dua samudra, serta keragaman tipe habitat dan ekosistem yang terdapat di dalamnya. Keanekaragaman hayati pesisir dan lautan hadir dalam bentuk ekosistem terumbu karang, mangrove, padang lamun, biota, estuari, pantai terbuka, dan laut jeluk (laut dalam). (Supriharyono, 2007).
Hutan mangrove merupakan salah satu ekosistem alamiah penting yang memiliki fungsi yaitu secara fisik, hutan mangrove menjadi daerah pelindung daratan dari pengaruh abrasi/erosi ombak. Secara kimia berfungsi menyaring bahan pencemar (polutan) terutama bahan-bahan organik dan sumber energi bagi ketersediaan detritus yang merupakan sumber makanan biota perairan. Secara biologi, berperan sebagai daerah asuhan, daerah pemijahan, dan daerah mencari makan berbagai jenis ikan, udang dan biota lainnya, sedangkan secara estetika dan pendidikan hutan mangrove berfungsi sebagai tempat pariwisata dan pendidikan (Bengen, 2003).
Besarnya peranan hutan mangrove bagi kehidupan dapat diketahui dari banyaknya jenis hewan, baik yang hidup diperairan, di atas lahan maupun di tajuk-tajuk pohon mangrove serta ketergantungan manusia terhadap hutan mangrove tersebut. Salah satu kelompok organime aqutik yang dominan dan sekaligus menjadikan hutan mangrove sebagai habitatnya adalah moluska terutama dari kelas gastropoda. Selain organisme tersebut, tubuhan laut terutama makroalga juga diketahui memanfaatkan hutan mangrove sebagai habitat alaminya.
Supriharyono (2000) menyatakan bahwa moluska adalah merupakan organisme yang banyak ditemukan di daerah hutan mangrove. Salah satu kelompok organisme molusca penyusun fauna ekosistem mangrove dengan tingkat keanekaragaman jenis yang tinggi adalah gastropoda. Gastropoda adalah yang paling banyak jenisnya, dimana sekitar 35.000 spesies yang telah diketahui dan kurang dari 15.000 spesies dalam bentuk fosil (Barnes, 1967 dalam Noor dkk, 1999). Di Indonesia terdapat sekitar 1500 jenis yang menempati berbagai jenis habitat sehinga di anggap sebagai kelompok yang paling sukses (Nontji, 2002). Budiman  (1985)  dalam Noor, dkk  (1999), mencatat sebanyak 91 jenis moluska  hanya dari satu tempat saja di Seram Maluku jumlah tersebut termasuk 33 jenis yang biasanya terdapat pada karang, akan tetapi juga sering mengunjungi daerah mangrove. Di Halmahera Maluiu Utara ditemukan 40 jenis dimana sebagian besarnya adalah hidup di daerah hutan mangrove.
Selain organisme tersebut, terdapat pula tumbuhan laut yang juga di ketahui memanfaatkan hutan mangrove sebagai habitat alaminya yaitu makroalga. Sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan  oleh Majid, dkk (2007) di Kecamatan Moti Kota Ternate, menemukan makroalga dapat tumbuh pada ekosistem hutan mangrove dengan jumlah spesies yang ditemukan sebanyak 10. Sedangkan Masita (2009) menemukan 6 spesies pada hutan mangrove Pulau Raja.
Pulau Donrotu adalah merupakan pulau yang tidak berpenghuni dan secara adminitratif masuk dalam wilayah Kecamatan Jailolo Selatan Kabupaten Halamahera Barat. Pulau ini memiliki habitat alami penting wilayah pesisir dan lautan seperti ekosistem hutan mangrove, padang lamun dan terumbu karang. Khsusnya ekosistem hutan mangrove mempunyai peran yang sangat penting bagi berbagai jenis organisme laut pada umunya dan khususnya lagi  moluska (gastropoda) yang hidup di perairan pulau Dondotu. Namun informasi yang berkaitan dengan tingkat keanekaragaman jenis  dari ketiga sumberdaya tersebut hinga sekarang masih sangat minim. Olehnya itu, upaya untuk dapat mengungkapkan  potensi sumberdaya organisme, dalam hal ini moluska (gastropoda) serta makroalga di perairan pulau Donrotu adalah merupakan suatu langkah yang sangat penting terutama dalam rangka pemanfaatan secara lestari sehinga keberadaan sumberdaya tersebut  tetap terjaga dari upaya pemanfaatan yang tidak berkelanjutan (over exploitasi). Berdasarkan latar belakang tersebut di atas sangat penting untuk dilakukanya penelitian dengan judul ” Studi Ekologi Organisme Hutan Mangrove Di Pulau Donrotu Desa Sidangoli Dehe Kecamatan Jailolo Selatan Kabupeten Halamahera Barat”.


1.2.     Tujuan dan Manfaat Praktikum
Praktikum yang dilakukan ini bertujuan :
1.    Mengetahui komposisi jenis dan distribusi organisme yang hidup di perairan hutan mangrove Pulau Donrotu.
2.    Mengetahui struktur komunitas yang meliputi, Kepdatan Jenis, Pola Sebaran, Keanekaragaman Dominasi, Kemerataan dan Kesamaan Komunitas.
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah dapat memberikan informasi kepada pihak-pihak yang terkait terutama masyarakat di sekitarnya tentang jenis-jenis dan keanekaragaman jenis  sumberdaya gastropoda dan Makroalga yang hidup di kawasan perairan hutan mangrove di Pulau Donrotu serta dapat dijadikan sebagai data pendahuluan untuk penelitian-penelitian  selanjutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar